Pakar TI: Digitalisasi Kian Masif, Indonesia Kekurangan Jutaan Tenaga Keamanan Siber
Seiring lanskap digital yang kian kompleks sekaligus sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya ancaman siber (cyber threat), saat ini tenaga ahli keamanan siber yang andal sangat dibutuhkan. Sebuah laporan kesenjangan keahlian keamanan Siber Global 2023 yang dirilis Fortinet menemukan bahwa 68 persen perusahaan menghadapi risiko tambahan akibat kurangnya tenaga ahli keamanan siber. Dunia usaha selama ini mencari kandidat tradisional atau mereka yang memiliki gelar di bidang terkait atau memiliki pengalaman kerja keamanan siber untuk mengisi posisi keamanan siber namun pendekatan ini tidak lagi cukup, mengingat melonjaknya kebutuhan akan tenaga keamanan siber profesional.
Pakar IT dan Ahli Keamanan Digital, Charles Lim mengatakan, memasuki era digital seperti sekarang ini, Indonesia masih sangat kekurangan ahli keamanan siber. Profil/Biodata Mayor Teddy Indra Wijaya Ajudan Prabowo, Lengkap Karir, Pendidikan, dan Foto foto Survei Capres 2024 Terbaru Hari Ini, Capres Terkuat 50 Persen di Survei dan Polling Indonesia
DEAL TRANSFER SERIE A 2024: Inter Milan 2 Pemain, AC Milan 1, Juventus 2, AS Roma 3 Calon Pemenang Pilpres 2024 Mulai Terlihat Jelang Pencoblosan, 6 Hasil Survei Elektabilitas Terbaru Halaman 4 Jadwal dan Prediksi Susunan Pemain Oman vs Kyrygystan, Siaran Piala Asia 2024, Nasib Garuda
Jadwal Siaran Langsung RCTI Timnas Indonesia vs Vietnam Piala Asia 2024, Laga Penentuan Garuda Idham Mase Kekeuh Cerai dengan Catherine Wilson, Kecewa Keket Tak Mundur dari Caleg, Rebutan Suara Halaman 3 Wakil Kepala Master Information Technology SGU mengatakan, belum lama ini dirinya bertemu dengan penjabat penting di TNI dan lembaga pertahanan negara itu membutuhkan puluhan ribu tenaga siber sekuriti.
"Jadi dilihat kemarin saja ngobrol sama pejabat TNI. Mereka membutuh 47 ribu personil siber yang disebar dari Sabang sampai Merauke. Saat ini di univeritas Pertahanan baru ada siber sekuriti. Jadi perlu banyak lulusan siber sekuriti," katanya. Dilihat dari sejarah awalnya, kebutuhan tenaga siber sekuriti dimulai saat tahun 2004 situs KPU dibobol yang membuat geger seluruh Indonesia. Pelaku berhasil mengubah nama partai menjadi Partai Si Yoyo, Partai Kolor Ijo, Partai Web Pertama dan lainnya dan ada upaya mencoba mengubah hasil voting namun gagal.
"Sejak situs KPU dibobol tahun 2004 itu, mulai diperlukan tenaga siber sekuiti, dan setelah hampir 20 tahun kebutuhan makin banyak seiring digitalisasi perusahaan yang dipush Pak Eric Thohir dan saat ini saja saya hampir tiap minggu ditanyakan apakah ada lulusan yang bisa langsung bekerja," katanya. Di tengah kebutuhan yang besar, sementara lulusannya tidak mencukupi, yang mendorong SGU menghadirkan program sarjana strata 1 khusus untuk di bidang keamanan siber. Maulahikmah Galinium selaku Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi SGU mengatakan, program Sarjana IT Cyber Security berfokus pengembangan solusi keamanan siber yang inovatif untuk melindungi data dan sistem informasi dari serangan siber. "Program ini dirancang dengan cermat untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memahami, menganalisis, dan memperkuat diri terhadap ancaman dan serangan siber yang terus berkembang di dunia digital," katanya.